Hobi merupakan naluri manusia untuk menyukai atau menyenangi sesuatu. Untuk itu hobi tidak bisa dijadikan sebagai objek pujian atau celaan secara mutlak melainkan ia dipuji atau dicela berdasarkan latar belakang yang memotivasi keberadaannya. Ibnul Qoyyim mengatakan bahwa kehendak itu mengikut pada objek yang dicintainya. Manakala objek yang dicintai termasuk hal yang pantas untuk dicintai atau pantas menjadi sarana untuk menghantarkan yang bersangkutan pada objek yang layak untuk dicintai, maka cinta yang berlebihan kepadanya tidak akan tercela bahkan dipuji.

Suatu hobi dapat dikatakan bernilai positif atau negatif menurut tinjauan syari’ah tergantung dari dua hal :

1. Niat atau yang memotivasi dia melakukan hobi tersebut.

Seorang yang memiliki hobi berolah raga misalnya, maka hobi itu tidak bisa diberikan hukum secara mutlak dikarenakan oleh raga bukanlah tujuan didalam islam, ia hanya sebagai sarana untuk mencapai tujuan, seperti berjihad di jalan Allah, menjaga kehormatan-kehormatan agama maupun kemuliaan umat.

Selama ia melakukan olah raga dengan niat agar memiliki badan sehat sehingga memudahkannya untuk meraih kesempurnaan ibadah, bejihad membela umat atau mendukungnya dalam beraktivitas da’wahnya maka hobi seperti ini akan mendapatkan pujian dari Allah bahkan ia bisa menjadi suatu kewajiban, sebagaimana sabda Rasulullah saw,”Sorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai daripada mukmin yang lemah.” (HR. Muslim)

Jika ia berolah raga hanya sebatas untuk hal-hal yang dibolehkan atau tidak ada larangan didalam islam, seperti untuk hiburan, menghilangkan kepenatan kerja, refreshing, mengisi waktu saja maka hal ini juga dibolehkan.

Akan tetapi apabila olah raganya diniatkan untuk kemaksiatan, seperti dengan badan sehat ia dapat melakukan suatu perampokan, untuk berjudi dan sebagainya maka hal itu diharamkan.

Begitu pula dengan hobi selainnya selama tidak ada nash-nash yang melarang jenis hobi tersebut, sebagaimana yang diriwayatkan dari Umar bin Khottob bahwa Rasulullah saw bersabda,”Sesungguhnya suatu amal tergantung dari niatnya.” (HR. Bukhori Muslim)

2. Jenis hobinya, apakah termasuk didalam kategori halal, haram atau mubah.

Suatu pekerjaan atau perbuatan yang dihalalkan secara tegas oleh syariat tentulah dianjurkan bahkan diwajibkan untuk disenangi, dijadikan hobi untuk dilakukan sebagai wujud kecintaannya kepada Allah dan Rasul-Nya, seperti : hobi membaca Al Qur’an setiap hari, hobi membaca buku-buku agama atau buku-buku lainnya yang bermanfaat, mengerjakan shalat atau yang sejenisnya, sebagaimana sabda Rasulullah saw,”Telah dijadikan shalat sebagai kesukaanku.” (HR. An Nasai)

Adapun pekerjaan atau perbuatan yang terdapat pengharamannya secara pasti didalam Al Qur’an maupun Sunnah maka menyukai, mencintai terlebih lagi melakukannya maka diharamkan oleh agama, seperti seorang yang secara sadar memiliki hobi mencuri, berzina, melakukan suap, memakan harta yatim dan yang sejenisnya.

Haramnya perbuatan atau pekerjaan tertentu tidak bisa dijadikan halal hanya karena baiknya niat yang ada dihati orang yang melakukannya, seperti orang yang berniat dengan uang suap akan membantu da’wah islam, ikut mabuk bersama pemabuk dengan niat bisa diterima kelompok mereka baru kemudian melakukan da’wah ditengah mereka. Hal itu ditegaskan dengan kaidah fiqih yang menyebutkan,”Niat yang baik tidak dapat membenarkan yang haram” atau kaidah lainnya “Bersiasat atas yang haram adalah haram”

Sedangkan terhadap suatu pekerjaan atau perbuatan yang tidak ada nash pengharamannya maka pada dasarnya ia boleh dilakukan tergantung dari niat yang ada dihati orang tersebut, tidak dicampur dengan hal-hal yang diharamkan dan tidak dilakukan berlebih-lebihan sehingga melalaikannya dari hal-hal yang diwajibkan Allah swt atasnya.
Seperti seorang yang memiliki hobi kongkow-kongkow, memelihara tanaman, sepak bola, mendengarkan musik dan sebagainya, sebagaimana disebutkan didalam kaidah fiqih “Segala sesuatu pada asalnya mubah”